UINSA Newsroom, Senin (23/12/2019); Desa Banyuurip, Kecamatan Ujung Pangkah-Gresik pada 20-21 Desember 2019 mendapat kunjungan dari Mahasiswa Ilmu Ekonomi semester 7 (tujuh) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya sebagai penutup perkuliahan. Desa ini, menjadi pilihan karena kemandirian desa dan keswadayaan masyarakat yang patut menjadi contoh sebuah desa yang sedang mentransformasikan dirinya dari ketertinggalan.

Seperti namanya, “Banyuurip,” desa ini berada di pesisir lautan, yang notabene masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan. Melalui sumber daya alam perairan tersebut, Desa Banyuurip berani mentransformasikan diri menjadi Desa Ekowisata. Mengingat, banyaknya potensi yang dapat dikembangkan, seperti kerang hijau dan mangrove yang menjadi salah satu hasil bumi Desa Banyuurip.

Achmad Room Fitrianto, SE., M.E.I., MA., Dosen Pengampu Mata Kuliah Seminar Ekonomi di Prodi Ilmu Ekonomi, mengajak mahasiswa untuk melihat dan belajar langsung bagaimana masyarakat terlibat aktif dalam rantai produksi kedua hasil bumi unggulan tersebut. “Disini (Banyuurip, red) kita bisa belajar banyak mengenai pengembangan desa, bagaimana pengelolaan dari perangkat sampai kultur masyarakatnya,” tutur dosen yang sering disapa Pak Room ini.

Salah satu keunggulan destinasi wisata yang ada di desa ini adalah adanya Banyuurip Magrove Center (BMC) yang merupakan hasil bentukan dari usaha masyarakat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis ini juga menginisiasi budidaya magrove melalui edukasi penanaman bibit sebagai alternatif destinasi wisata alam, pendidikan dan konservasi lingkungan.

Menurut Kepala Desa Banyuurip, Ihsan Haris menyatakan, bahwa BMC menjadi pusat mangrove yang ada di Kabupaten/Kota Gresik. “Maka tidak heran, kini BMC disebut-sebut sebagai pusat mangrovenya Kabupaten/Kota Gresik” ujar Ihsan Haris.

Selain menjual eksotisme pohon mangrove, kawasan wisata ini dikelilingi pohon cemara yang ditanam sepanjang jalan arah masuk menuju kawasan hutan mangrove. Didalam BMC juga terdapat taman baca yang nyaman dan bisa dimanfaatkan pengunjung.

Sampai saat ini, Desa Banyuurip memang masih terus melakukan proses pembangunan untuk mewujudkan program Desa Ekowisata. Namun, hal itu tidak mengurangi sedikit pun optimisme masyarakat yang tetap ingin menjadikan Banyuurip menjadi salah satu Desa yang maju di Kabupaten Gresik. Oleh karena itu, Desa Banyuurip terus-menerus berusaha meregenerasikan semangat masyarakat dalam proses pembangunan desa. Salah satunya melalui peningkatan partisipasi anak muda dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Dalam kunjungan kali ini, Mahasiswa prodi Ilmu Ekonomi melakukan survey sesuai tema yang diarahkan dosen pembimbing untuk kemudian hasilnya dijadikan buku profil Desa Banyuurip. Selain itu, juga memberikan sumbangsih berupa tanaman yang ditanam di sekitar BMC.

Para peserta mengaku senang dengan adanya kunjungan ke desa wisata ini. Karena selain mendapatkan banyak pelajaran dengan langsung turun di lapangan dan melakukan impelementasi dari materi mata kuliah yang didapatkan di kelas. Mereka juga berkesempatan untuk belajar sambil liburan. “Materi dan teori yang didapatkan dikelas akan menjadi lebih lengkap dan lebih relevan apabila kita melihat serta mengikuti penerapannya langsung di lapangan, dan tentu bonusnya liburan,” ujar Akbar, salah seorang peserta kunjungan Desa Banyuurip.

Acara kunjungan yang dilaksanakan selama dua hari ini, diikuti 61 mahasiswa dan mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi dengan didampingi empat dosen pembimbing. Rencananya, hasil survey dari kegiatan tersebut akan ditulis dalam sebuah buku yang didalamnya terdapat beberapa pembahasan mengenai Desa Banyuurip. Antara lain; 1. Konservasi, Bisnis, dan Perumahan. 2. Belanja Harian dan Sumber Pendapatan; 3. Budaya, Pendidikan, dan Ketahanan Keluarga; 4. Industri Kreatif, Wisata, dan Kearifan Lokal; 5. Tambang, Pembangunan, dan Perekonomian; dan 6. Buruh Migrant, Pemuda, dan Ketenagakerjaan. (Fen-Roy)