UINSA Newsroom, Selasa (05/01/2021); “Syukur alhamdulillah, teriring rasa syukur atas limpahan karunia Allah SWT., Tuhan Yang Maha Esa, pagi ini kita dapat melaksanakan Upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-75 Kementerian Agama Republik Indonesia,”

Pembukaan sambutan Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas dalam Upacara Peringatan HAB Ke-75 Kemenag RI menandai dua pekan pasca dilantik pada Rabu, 23 Desember 2020. Upacara perdana bagi Menag RI yang akrab disapa Gus Yaqut tersebut secara resmi digelar dua hari dari tanggal resmi berdirinya Kemenag, yakni 3 Januari 1946.

Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D., dalam upacara yang digelar UINSA menyampaikan sambutan Menag RI. Para peserta yang mengikuti upacara merupakan jajaran pimpinan pusat dan fakultas di UINSA.

Momentum HAB, menurut Menag RI, hendaknya menjadi sarana menebalkan niat dan motivasi dalam mencapai yang lebih baik lagi di masa mendatang. “Kementerian Agama memberikan anugerah penghargaan dan apresiasi kepada seluruh elemen umat beragama tanpa membedakan satu sama lain, atas dukungan, sinergi dan kebersamaannya mengawal tugas-tugas Kementerian Agama,” ujar Prof. Masdar.

Tema “Indonesia Rukun,” dinilai Menag RI, sejalan dengan semangat nasional yang   menempatkan   kerukunan umat beragama sebagai salah satu modal bangsa ini untuk maju. Karena tanpa kerukunan, akan sukar menggapai cita-cita besar bangsa agar sejajar dengan bangsa lain di dunia.

“Toleransi  dan kerukunan   antarumat   beragama   dilakukan   dengan tanpa mengusik akidah dan keimanan masing-masing pemeluk agama. Pengalaman membuktikan, toleransi dan kerukunan tidak tercipta hanya dari satu pihak, sedangkan  pihak  yang  lain  berpegang  pada  hak- haknya sendiri,” tegas Prof. Masdar.

Dalam kesempatan ini, Menag RI juga mengingatkan tentang semangat Kementerian Agama baru dan semangat baru dalam mengelola Kementerian Agama. Semangat Kementerian Agama baru itu dapat diterjemahkan dengan beberapa kata kunci.

Pertama, manajemen pelayanan dan tata kelola birokrasi yang harus semakin baik. Termasuk di dalamnya pelayanan penyelenggaraan haji dan umrah, pendidikan agama dan keagamaan, serta pusat pelayanan keagamaan.

Kedua, penguatan moderasi beragama. Salah satu penekanan moderasi beragama adalah pada penguatan literasi keagamaan, budaya toleransi, dan nilai-nilai kebangsaan.

Ketiga, persaudaraan, yang meliputi merawat persaudaraan  umat  seagama,  memelihara persaudaraan sebangsa dan setanah air dan mengembangkan persaudaraan kemanusiaan. “Mari mengedepankan akal sehat dan hikmah/kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan saat ini maupun di masa-masa yang akan datang. Mari jadikan agama sebagai inspirasi pembangunan bangsa dan negara. Dan mari kita senantiasa berdoa semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, melimpahkan rahmat, taufiq, dan ampunan-Nya kepada kita semua,” tukas Prof. Masdar. (Nur/Humas)